Kamis, 11 Desember 2008

NARSISME

Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang narsisme tidak selalu percaya diri di depan umum, namun bisa juga ditunjukkan dengan suka memfoto diri sendiri. Biasanya orang yang narsisme adalah seorang model. karena mereka sering sekali mendapatkan pujian dan itu menyebabkan mereka merasa percaya diri dan akhirnya berlebihan.

Narsisme muncul dengan gejala utama rasa kagum yang berlebih-lebihan pada diri sendiri, merasa selalu berhasil dan unggul, selalu mencari perhatian dan pujian, dan tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

John C. Nemiah, MD, profesor psikiatri dari Harvard Medical School dalam bukunya Foundations of Psychopathology menjelaskan istilah narsisme: berasal dari kata Narcissus, nama seorang pemuda tampan dalam mitos Yunani kuno.

Konon suatu hari Narcissus menangkap citra wajahnya pada permukaan air yang tenang di hutan, dan sontak ia jatuh cinta pada diri sendiri. Selanjutnya ia putus asa karena tidak mampu memenuhi apa yang sangat diinginkannya; ia bunuh diri dengan sebilah belati. Dari tetesan darahnya yang jatuh di dekat air, tumbuhlah bunga yang sampai sekarang dikenal dengan nama Narcissus.

Dari penjelasan di atas, tergambar adanya kesulitan besar berhubungan dengan orang lain bila kita terlalu mengagumi diri sendiri. Kekaguman pada diri sendiri yang berlebihan membuat kita selalu lapar untuk memuaskan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri, selalu mencari perhatian dan pujian, serta tidak peka terhadap perasaan dan kebutuhan orang lain.

Pada penderita narsisme terdapat hubungan erat antara kebutuhan narsistik dengan kemarahan, bila kebutuhan itu tidak terpuaskan. Kita suatu saat bereaksi tidak setuju dan marah ketika gagal mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Untuk itu diperlukan kesediaan mengamati gerak-gerik emosi dan keinginan-keinginan di balik perilaku kita dalam berhubungan dengan orang lain, supaya dorongan yang egoistis dan tidak realistis dapat dikenali. Selain itu juga harus mulai belajar berempati: membiasakan diri mengamati masalah dari perspektif orang lain. @
Dulu, di sekolah saya ada siswa-siswi yang hobinya memfoto diri sendiri. Setiap handphone berkamera milik temannya, hampir bisa di pastikan ada foto dirinya, dengan pose-pose khasnya. Ternyata fenomena anak sma tersebut tidak jauh berbeda dengan mahasiswa tempat saya berkuliah, perilaku cuek atau masa bodoh terhadap penilaian dari lingkungan mungkin menjadi salah satu penyebabnya.

Tidak ada komentar: